peristiwa-paniai-menolak-lupa-pelanggaran-ham-berat

Kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia telah sering terjadi, bahkan dari masa awal kemerdekaan Indonesia kasus HAM telah sering terjadi bahkan sebagian besar turut melibatkan pemerintah atau apparat sipil.


Kasus pelanggaran HAM oleh pihak aparat bukan lagi menjadi sesuatu yang baru, bahkan dalam sejarah pemerintahan di Indonesia khususnya dalam era orde baru (Orba) telah sangat dikenal jika pemerintahan pada masa itu nampak sangat otorites hingga sering terjadi pelanggaran HAM oleh rezim yang berkuasa.


Rupanya, kasus pelangaran HAM yang melibatkan aparat sebagai pelakunya tidak berhenti di akhir orde baru. Pada tahun 2014 terjadi kembali kasus pelanggaran HAM di Papua terjadi lagi kasus tersebut yang hingga kini dikenal sebagai Peristiwa Paniai.


Apa itu Peristiwa Paniai?

Peristiwa Paniai merupakan sebuah kejadian pembunuhan pemuda dari pondok natal yang kemudian semakin memanas di lapangan Suharto. Kejadian tersebut bermula pada tengah malam tanggal 7 Desember 2014, di moment akhir tahun pada mulanya ada sekelompok anak sekitar 11 orang sedang menyanyikan lagu Natal di depan api unggun di Enarotali.


Kemudian, munculah dua orang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan mengendarai kendaraanya, melihat lampu sen motor anggota TNI itu tidak menyala akhirnya 3 pemuda memutuskan untuk menegurnya. Namun rupanya teguran tersebut mendapat balasan berupa penganiayaan hingga menyebabkan kematian.


Tak berhenti sampai disana, kejadian yang membuat amarah di masyarakat ini membuat kumpulan massa besar di Lapangan Suharto, dan disini terjadi kembali pelanggaran HAM berupa penembakan oleh aparat.


Kronologi Peristiwa Paniai

Setelah mendapat teguran karena lampu sen yang tidak menyala, rupanya anggota TNI tersebut tidak mendengarkannya. Malahan prajurit tersebut yang diketauhi tengan merayakan ulang tahun dengan mabuk-mabukan itu memberikan feedbcak buruk berupa ancaman akan membawa serta rekan prajuritnya.


Akhirnya bersama dengan temannya TNI itu mulai mengejar mereka dan memukul sekelompok anak-anak menggunakan ujung senapan. Lebih parahnya lagi, salah seorang dari mereka malah melepaskan tembakan ke arah anak-anak.

Keesokan harinya, pada 8 desember 2014, masyaraka kampong Ipayike menuju ke kota Enarotali untuk meminta penjelasan dari aparat. Sekitar 10 pagi, masyarakat mulai marah hingga membaar satu buah mobil yang diduga sama dengan kendaraan pada saat kejadian.

Setelah kejadian itu, massa semakin meluas dan berkumpul di lapangan Suharto. Disinilah pelanggaran HAM berat kembali terjadi dimana bukannya menanggapi masyarakat yang marah, aparat justru memberikan komando penembakan di tempat kepada massa jika terus situasi memanas.

Korban Peristiwa Paniai dan Penembakan di Lapangan Karel Gobai

Peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh oknum TNI itu rupanya menyebabkan luka serius pada salah seorang korbannya, Yulianus Yeimo (16 Tahun). Luka yang diterima akibat pukulan ini pada awalnya menyebabkan ia koma, hingga akhirnya pada 1 april 2018 Yulianus menghembuskan nafas terakhirnya.


Kematian Yulianus semakin membuat suasana mejadi panas. Keesokan harinya, sekitar 1000 orang pemuda dan anak-anak baik pria maupun wanita mulai berkumpul di lapangan sepak bola di depan kantor polisi dan pusat komando militer untuk menuntut keadilan.


Lapangan ini bernama "Lapangan Suharto" atau sebelum orba lebih dikenal dengan "Lapangan Karel Gobai" yang meupakan nama seorang pahlawan di Paniai. Mereka yang datang di lapangan ini mulanya mengadakan sebuah upacara dan menampilkan tarian waita khas suku Mee Pago sebagai wujud protes tindakan brutal tersebut.


Tidak hanya itu, massa-pun juga menyerang pos polisi dan pangkalan militer menggunakan batu. Menaggapi hal itu, komando pasukan gabungan TNI mulai memberikan intruksi tembakan di tempat. "Jika massa tersebut melakukan perlawanan lebih dari 3x, tembak mati mereka", seperti itu yang tertulis dalam dokumen resmi investigasi kasus yang diterbitkan majalah Time.

Melihat potensi kerusahan yang dapat terjadi, kepala kamung Kego Koto di Enarotali, Yeremias Kayame (56 Tahun) mulai berusahan menenangkan massa serta meminta mereka untuk kembali ke rumah. namun rupanya massa tidak mendengarkannya, akhirnya Yeremias memilih untuk pergi dari kerumunan massa. Namun rupanya kasus penembakan terjadi dengan Yeremias sebagai targetnya, "Ketika penulis berbaik, tiba-tiba penulis tertembak di pergelangan tangan kiri penulis" ucap Yeremias.


Tidak hanya dia, salah satu korban penembakan lainya adalah seorang remaja 17 tahun bernama Alfius Youw (Adik sepupu dari Yohanes Youw). Pada saat kerusahan terjadi, Alfius secara tidak sengajah tengah melintas di lapangan Suharto, menurut kesaksian ia terlihat berlari kencang untuk mengindari kerusuhan namun tiba-tiba Alfiius terjatuh ke tanah dan tak bergerak lagi setelah timah panas menyerangnya.


Mendengar hal itu, Yohanes Youw belari kencang menuju lapangan untuk memastikan keadaanya, "penulis berlari ke arahnya dan memeriksa jasad itu untuk memastikan bahwa itu adalah dia" ujar Yohanes. Tidak hanya mereka, beberapa tembakan juga terjadi menghujani massa yang semakin panas karena sikap aparat yang tidak manusiawi.